Jumat, 04 Oktober 2013

 dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung (Ali Imron:104)

     Hari itu adalah hari yang paling menyenangkan bagiku, karena hari itu untuk pertama kali kuinjakkan kaki asaku di kampus ini, menjadi seorang mahasiswa. Sebuah harapan masa depan yang tidak semua orang bisa seberuntung ini mendapatkan kesempatannya.Namun betapa kagetnya diriku ketika masuk ke dalam area kampus, banyak sekali mahasiswi yang pakaiannya ‘aneh’, dan itulah awal kejengkelanku di kampus ‘Islam’ ini bermula. Sebagai anak kampung nan polos hal itu cukup menampar perasaanku. begitu pula saat pembagian kelas. tidak sedikit mahasiswi yang berpenampilan super minim, meski pakai kerudung. Kalo orangnya biasa-biasa aja sih gak masalah. Masalahnya hampir semua ceweknya super cantik-cantik (hehe, maaf jujur),

   Aku hanya geleng-geleng kepala melihat fenomena itu, mengingat ini adalah fakultas pendidikan dan keguruan, ditambah lagi waktu itu adalah bulan suci ramadhan, aku yakin itu adalah awal mula ramadhanku rusak dan tak maksimal. Sampai-sampai aku pernah membuat slogan untuk kampus ini,”tak ada celah disini untuk tidak menjumpai maksiat, kalo ada cewek di kiri, kita membuang muka ke kanan, eh,,di kanan ada juga. Sampai-sampai sebelum berniat jelek kita udah maksiat duluan’.

      Ternyata kampus tidak hanya sebagai pusat godaan, namun juga sarang kesesatan. Dalam perjalananku sebagai seorang aktivis muslim (sebenarnya pasifis muslim,hehe) banyak sekali kudapati isu-isu liberalism, feminism, bahkan komunisme berdesir kencang di kampus ini. Dan sering meracuni fikiran para aktivis kampus yang lagi getol-getolnya bicara pergerakan, (namun maaf, jarang ngaji). Dan terkadang birokrasi kampus pun tidak bisa berbuat banyak untuk menanggulangi itu.

MENTORING KEISLAMAN DAN LDK (Lembaga Dakwah Kampus)

    Keberadaan kegiatan Mentoring dan LDK di tengah kegiatan kampus memang sangat tepat untuk mengislamisasi kampus. Di dalam sebuah universitas, Mentoring merupakan satu kegiatan keislaman kampus yang dimasukkan dalam kalender akademik, diadakan sekali dalam sepekan tepatnya pada hari sabtu, karena hari sabtu merupakan hari kosong perkuliahan. Sedangkan LDK adalah suatu organisasi keislaman kampus yang bertujuan islamisasi kampus. Keduanya eksis Sebagai konsekuensi dari penghadapan para mahasiswa yang bersifat heterogen, juga sebagai jawaban atas tuntutan dakwah. maka eksistensi mentoring dan LDK keislaman bertujuan untuk pengenalan dan pendalaman nilai-nilai keislaman pada mahasiswa, terutama yang angkatan baru, oleh karena itu mentoring dan LDK (seharusnya) bersifat wajib di kampus-kampus. Kegiatannya bermacam-macam, secara teknis diserahkan sepenuhnya kepada pementor atau organisasi yang menjadi wadah, bisa berbentuk kajian tsaqofah, diskusi keislaman, ataupun perbaikan bacaan alqur’an (tahsin). Dengan begitu diharapkan semua mahasiswa baru dibekali dengan nilai-nilai spiritualitas islam.

Mentoring dan LDK, dakwah yang sesungguhnya…

     Dakwah Islam adalah suatu gerakan islam yang bertujuan menyadarkan dan mengembalikan ummat pada keadaan yang semestinya, yaitu sebagai hamba yang secara total bertanggung jawab atas eksistensi dirinya untuk beribadah kepada Allah, menjalankan segala perintah dan menjauhi larangannya, maka tidak akan pernah sampai pada titik itu tanpa adanya ilmu sebagai pencerah, oleh karena itu bentuk-bentuk kegiatan dakwah sangat beragam, biasanya dakwah berbentuk suatu kajian keislaman di masjid-masjid. Sang ustad/dai menerangkan ilmu agama secara ‘jujur’ dan jelas, kemudian masyarakat mendengarkan dengan antusias. Namun di sisi lain, Dalam lingkungan kampus, Sebagaimana yang saya paparkan diatas sebelumnya bahwa keadaan mahasiswa ini sangat heterogen, tidak hanya oleh begitu banyaknya mahasiswa yang belum tahu tentang dasar-dasar islam, belum bisa membaca alqur’an, ataupun yang masih awam dalam urusan ilmu-ilmu syar’ie seperti aqidah, akhlaq, lebih-lebih ilmu Feqih.

     Serta sangat minimnya antusiasme para mahasiswa untuk menuntut ilmu syar’ie di dalam kampus, meskipun banyak sekali organisasi keislaman yang mengadakan kajian-kajian keislaman, yang datang Cuma beberapa mahasiswa. Mereka lebih cenderung mengikuti kegiatan-kegiatan yang berbau fun n’ free, sudah bisa disimpulkan ketika suatu kali ada acara kampus yang berbarengan, kajian keislaman dengan festival band, mana yang lebih meriah??.

     Itulah yang menjadikan alasan betapa mentoring dan LDK merupakan dakwah yang sesungguhnya, karena para dai harus benar-benar totalitas dalam mengajak mahasiswa kepada nilai-nilai keislaman dengan berbagai batu sandungan yang terkadang membuat para mentor mengelus dada,dan lebih dalam lagi, kegiatan mentoring dan LDK berhadapan langsung dengan ideologi-ideologi non syar’ie yang berkembang dikalangan mahasiswa yang kebanyakan memiliki tingkat intelejensi yang tidak rendah. Seperti para aktifis yang teracuni paham sekuler, liberal, feminis, dll,mereka bukanlah mahasiswa yang bodoh, untuk menghadapi dan mencegah penyebaran pengaruhnya butuh kekuatan yang lebih, ilmu yang mumpuni, dan tingkat keberanian juga kesabaran yang tinggi, itu akan menjadi tantangan tersendiri bagi para aktivis mentoring dan LDK ini dalam pengemasannya di kegiatan mentoring dan LDK.

PEMENTOR BUKAN MALAIKAT

    Sebagaimana yang terjadi di kebanyakan instansi ataupun organisasi, bahwa sistem tidak selalu menciptakan kemudahan sebagaimana yang diharapkan, bahkan terkadang bisa menjadi sebuah boomerang bagi organisasi untuk mencapai keefektifan dalam manajerial. Semakin banyak system itu dipegang oleh orang-orang yang tidak kompeten maka semakin sulit system itu berjalan. Maka dalam mentoring dan LDK, tak khayal terjadi kefakuman tujuan, alias stagnasi hasil, apalagi sebagaimana yang kita ketahui, bumbu-bumbu keislaman adalah hal pertama yang paling tidak diminati oleh mahasiswa. Bahkan tidak jarang spanduk-spanduk keislaman seperti jilbabisasi hilang begitu saja.

    Mereka hanya terpaku pada dua point, intelektualitas akademisi dan pergerakan kampus.maka tidak jarang dijumpai acara BEM lebih ramai daripada acara kajian di masjid kampus. Untuk itulah ketika kita mengamati keadaan seperti itu, para pementor benar-benar membutuhkan nilai perjuangan yang tinggi daripada para aktivis yang lain, lebih lebih nilai kesabaran, karena melihat kecilnya harapan, jauh dari yang sebagaimana diharapkan. Bahkan terkadang persiapan yang sudah sangat matang pupus begitu saja karna sedikitnya peserta.
 
      Disisi lain, perbedaan fikroh(pemikiran) para aktivis dakwah cukup mempengaruhi alur dakwah di dalam kampus, keberagaman fikroh tersebut membuat islam terkotak-kotak dari dalam, bahkan terkadang sifat ashobiyah(fanatik golongan) benar-benar menjadi penghalang, seperti gagalnya suatu kegiatan keislaman karena tidak menemukan titik temu saat berdebat dalam koordinasi penentuan pengisi acara. Lebih parah lagi ketika sebuah gerakan konspirasi bergerak lembut di dalam suatu organisasi dakwah untuk kepentingan golongan tertentu. Ironis memang, Manusia tetaplah manusia, hanya bisa merencanakan, Allah lah yang memutuskan hasilnya. Setidaknya niat tulus para pementor juga kesungguhan dalam berdakwah di dalam kampus akan menjadikan titik temu antara ikhtiar dan tawakal.

Harapan itu masih (selalu) ada…

dan di antara orang-orang yang Kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan hak, dan dengan yang hak itu (pula) mereka menjalankan keadilan.(Al A’raf: 181)


      Dengan bekal keimanan serta hasrat yang tinggi untuk meninggikan kalimatullah dengan sangat tinggi di muka bumi, maka langkah-langkah kecil para pejuang peradaban islam di kampus memberikan suatu warna tersendiri dalam perjuangan ini, peluh keringat, pengorbanan waktu, bahkan air mata yang menetes di sela-sela perjuangan dakwah ini menunjukkan, betapa mulianya para penggembar-gembor akidah ini, meskipun dengan hasil yang menyakitkan, terror dan ancaman para sekuleris kampus, bahkan aparat keamanan. tidak menyurutkan langkah-langkah ini dalam menempuh jalan yang lurus, menyampaikan kebenaran dan memurnikan aqidah islam dalam lingkungan kampus.

    Untuk para pejuang peradaban, mari kita singkirkan sejenak egoism diri, dan fanatisme golongan, kita kembali dalam langkah abadi ini, atas nama Allah yang menyeru kepada keindahan syurga, kita rapatkan barisan, kita saling menggengam kebenaran, dengan Alqur’an dan sunnah Rasulullah sebagai satu-satunya pedoman, berlarilah, hingga kaki terseok-seok dan berdarah-darah. Namun jangan pernah berhenti. Karena kita, adalah orang-orang terpilih, para penyeru kebenaran,sebagai oase segar di tengah-tengah kegersangan kampus, atas nama islam…Allahu Akbar..!!
 
Sumber : http://achadinerz.blogspot.com/2011/03/mentoring-dan-ldk-oase-islam-di-padang.html

Sabtu, 21 September 2013

Ikutilah SMILE "Saatnya Mengenal Islam Lebih Efektif"

Jumat, 16 Agustus 2013



SEPANJANG peradaban manusia, kita tahu bahwa pemuda adalah sosok pelopor dalam segala hal. Berbagai perubahan yang terjadi di setiap bangsa, pemuda adalah penggeraknya. Di balik setiap transformasi sosial, motor utamanya tak lain adalah pemuda. Ibarat sang surya, maka pemuda bagaikan sinar matahari yang berada pada tengah hari dengan terik panas yang menyengat.
Berbagai bakat, potensi, kecenderungan, baik mengarah kepada kebaikan maupun kepada kejahatan memiliki dorongan yang sama kuatnya ketika pada masa muda. Itulah sebabnya, kegagalan dan keberhasilan seseorang, kematangan kepribadian manusia pada masa tua ditentukan oleh masa mudanya. Jika mereka adalah para pemuda yang baik dan terdidik dengan adab-adab Islam, maka merekalah yang akan menyebarkan dan mendakwahkan kebaikan Islam serta menjadi nakhoda umat ini yang akan mengantarkan mereka kepada kebaikan dunia dan akhirat.
Oleh karena itulah para Sahabat Nabi yang masih muda memiliki andil dan peran yang sangat besar dalam menyebarkan agama ini baik dari sisi pengajaran maupun dari sisi berjihad di jalan Allah -Subhanahu wa Ta’ala-. Dalam pentas sejarah Islam, dengan mudah kita mendapati pemuda-pemuda yang namanya terukir dengan tinta emas. Mereka layak menjadi uswah (teladan) bagi pemuda generasi sekarang. Panutan yang sangat riil di saat pemuda kini kehilangan figur yang bisa dicontoh.

Potret Pemuda Islam Terkini

Di zaman sekarang, pola hidup pemuda muslim sudah sangat memperihatinkan. Berapa banyak pemuda muslim yang mengunjungi masjid guna menunaikan sholat fardhu dan kegiatan-kegiatan bermanfaat lainnya? Berapa banyak pemuda muslim yang mengkaji dan menghafalkan kitabullah? Berapa banyak pemuda muslim yang mengkaji ilmu agama? Mereka lebih senang menghabiskan waktu luang mereka dengan mengujungi tempat-tempat hiburan seperti Game Center, Rental PS, dkk.
Padahal jika dilihat dari sisi ekonomi, pergi ke tempat seperti itu mengeluarkan biaya dan tidak bermanfaat sedikitpun, bahkan malah membawa bencana. Sedangkan untuk pergi ke masjid, kita tidak usah mengeluarkan uang sepeserpun. Ditambah lagi kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di masjid bermanfaat, dan berpahala.
Kalau kita tanya tentang agama banyak remaja yang mengaku Islam, tapi tidak tahu mengenai, Sirah Nabinya, Sahabatnya, bahkan dulu waktu saat sekolah sudah di ajarkan dalam pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam, tapi waktu kita tanya “Siapa sih Abu Bakar itu??” ada juga yang tidak tahu, belum yang lain ditanya.
Bahkan banyak remaja sekarang tiap pergatian tahun baru selalu mereka merayakan, bersukaria, meniup trompet, malah ada yang berkumpul-kumpul lomba balapan liar yang mengganggu ketentraman masyarakat. Tahun baru yang nyata-nyata merayakan itu bukanlah tahun Islam baik dari historis maupun dari pandangan umum, tapi coba lihat waktu tanggal 1 Muharram tahun Hijriyah apakah ada yang peduli terhadap tahun yang memiliki sejarah bagi orang yang beriman yang sangat berarti sekaligus sebuah sejarah perjuangan Nabi yang bukan hanya untuk diperingati namun juga sebagai sebuah ibrah yang harus kita amalkan pada setiap individu masing-masing maupun seluruhnya.
Coba tanya pada pemuda-pemuda yang mengaku Islam yang mondar mandir di jalanan, coba suruh menyebutkan 12 bulan dalam tahun Masehi, lalu coba suruh menyebutkan 12 bulan pula pada tahun Hijriyah!! Allahu Akbar, bagaimana tidak? Tahun Masehi (Nasrani) mereka hafal, namun tahun Hijriyah tahun agamanya sendiri tidak tahu. Jika bulan Hijriyah saja tidak hafal, lalu bagaimana sejarahnya?
Bagaimana pendapat anda mengenai ini?? Lalu apakah pemuda kita masih ada yang tidak tahu bulannya sendiri?? Budaya di luar Islam banyak merebak hingga mereka buta terhadap agamanya sendiri.

Keteladanan Pemuda Era Rasulullah
Perlu kita fahamkan, bahwa masa muda ialah waktu untuk berkarya, periode emas dimana para pemuda zaman Rasulullah saw. mengerahkan seluruh jiwa dan raganya untuk kemenangan Islam.
Adalah Az Zubair bin Awwam. Ia adalah sosok pemuda teman diskusi Rasulullah, anggota pasukan berkuda, tentara yang pemberani, pemimpin dakwah Islam di zamannya dalam usia 15 tahun. Sementara Thalhah bin Ubaidillah, seorang pembesar utama barisan Islam di Makkah, singa podium yang handal, pelindung Nabi saat perang Uhud berkecamuk dengan tujuh puluh luka tusuk tombak, donator utama fii sabilillah, mendapat julukan dari Rasulullah: Thalhah si Pemurah, Thalhah si Dermawan di usianya yang masih sangat muda.
Juga Sa’ad bin Abi Waqash, seorang ksatria berkuda Muslimin paling berani di saat usianya baru menginjak 17 tahun. Ia dikenal sebagai pemanah terbaik, sahabat utama yang pertama kali mengalirkan darahnya untuk Islam, lelaki yang disebut Rasulullah sebagai penduduk surga.
Zaid bin Tsabit, mendaftar jihad fii sabilillah sejak usia 13 tahun, pemuda jenius mahir baca-tulis. Hingga Rasulullah bersabda memberi perintah: “Wahai Zaid, tulislah….”. Ia mendapat tugas maha berat, menghimpun wahyu, di usia 21 tahun.
Juga Usamah bin Zaid, namanya terkenal harum sejak usia 12 tahun, mukmin tangguh dan muslim yang kuat, Rasulullah menunjuknya sebagai panglima perang di usianya yang ke-20 dan memimpin armada perang menggempur negara adikuasa Romawi di perbatasan Syiria dengan kemenangan gemilang.
Lalu, jika mereka pada usia seperti itu saja telah berhasil mempersembahkan karya yang luar biasa, bahkan ada yang mempersembahkan nyawanya untuk membela Islam sehingga memperoleh syahid di jalan- Nya,, maka apa yang telah kita persembahkan?
Memang menjadi salah satu tugas kita juga untuk menunjukkan pada masyarakat bahwa pemuda muslim yang diharapkan agama, bangsa dan negara adalah pemuda yang benar-benar ta’at pada Allah, yang Islamnya kaaffah (menyeluruh), tidak setengah-setengah. Karena bisa jadi, pandangan masyarakat (yang diawal telah disebutkan) terhadap para pemuda disebabkan tak munculnya sosok yang menjadi bukti bahwa pemuda muslim yang kaaffah-lah yang sebenarnya umat butuhkan.
Setiap tahun, masyarakat kita memperingati hari Sumpah Pemuda di negara ini. Sayang, peringatan itu hanya sebatas kegiatan seremonial semata, tetapi miskin subtansi. Dengan adanya karakteristik sosok pemuda ideal yang dicontohkan dalam al-Qur’an dan al-Hadits diharapkan bisa menjadi sumber inspirasi bagi para pemuda Indonesia dahulu, masa kini dan masa depan. Sadarilah, bahwa Islam menunggu peran para pemuda. Islam menunggu kita, kawan!!!
Pemuda yang senantiasa Belajar Agama, mendalaminya< mengamalkannya, lantang mendakwahkannya, digarda depan mereka pioner perubahan mengajak manusia kepada Agama Tauhid, karyanya menggemparkan dunia, bersemangat disetiap jalan kebenaran, merangkul dan mengajak masyarakat untuk taat kepada Allah dan RasulNya.
Inilah Pemuda harapan ummat masa ini, mereka tauladan sesamanya dan impian orangtua kepada setiap anak-anaknya. itukah kalian…!!!?
Mari kita buktikan bahwa di atas pundak kepribadian muslim yang sempurnalah umat Islam akan berdiri kokoh dan kuat. Mari saling mengingatkan untuk senantiasa bersemangat dalam menjalani masa muda sebagai persembahan kita untuk Allah ‘aza wa jalla. [Oleh: Monkey D. Luffy/islampos]

Selasa, 23 Juli 2013

Foto Bersama Anggota LDK MIZAN Masa Dakwah 2013/2014 
di halaman Masjid Agung Palembang, 20 Juli 2013


Selasa, 16 Juli 2013


KATA SAMBUTAN
KETUA LDK MIZAN

Assalamu’alaikum Wr. Wb
Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, atas ridho, rachmad dan perkenan-Nya, pada hari ini Selasa tanggal 16 Juli 2013, LDK MIZAN melaunching Website LDK MIZAN dengan situs http://ldkmizanpalembang.blogspot.com/
Mulai hari ini masyarakat luas dan khusus mahasiswa Poltekkes Palembang akan dapat dengan mudah mengakses untuk mencari dan mendapatkan informasi yang berkaitan dengan pelaksanaan kinerja LDK MIZAN dari hulu sampai hilir dengan segala perkembangannya. Website ini merupakan salah satu bentuk transparasi dan akuntabel pelaksanaan kinerja, yang diharapkan dapat membangun image masyarakat kedalam tataran yang positif dan lebih baik lagi dengan diimbangi profesionalisme serta peningkatan jati diri setiap insan dalam setiap pelaksanaan kinerja yang menjadi tanggung jawabnya, dalam setiap tahapan proses penyelesaiannya.
Kehadiran website ini, dapat dijadikan sarana kontrol, sekaligus pemicu dalam penyelesaian setiap tugas yang dapat dipertanggung jawabkan kepada publik.

Sekian dan terima kasih.
Wasalamu’alaikum Wr. Wb

Palembang, 16 Juli 2013


ACHMAD FAISAL ROSYADI
NIM PO.71.20.1.12.001

Senin, 15 Juli 2013

 WAKTU
 
Waktu adalah salah satu nikmat tertinggi yang diberikan Allah kepada Manusia. Sudah sepatutnya manusia memanfaatkannya seefektif dan seefisien mungkin untuk menjalankan tugasnya sebagai makhluk Allah di bumi ini. Karena pentingnya waktu ini maka Allah swt telah bersumpah pada permulaan berbagai surat dalam al-quran yang turun di mekkah dengan berbagai macam bagian dari waktu. Misalnya bersumpah demi waktu malam, demi waktu siang, demi waktu fajar, demi waktu dhuha, dan demi masa. Semisal dalam surat Al-Lail ayat 1-2, Allah berfirman:
وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى ﴿١﴾ وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّى ﴿٢
“Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan siang apabila terang benderang.”
Menurut pengertian yang popular di kalangan para mufassirin dan juga dalam perasaan kaum muslimin, apabila Allah bersumpah dengan sesuatu dari ciptaan-Nya, maka hal itu mengandung maksud agar kaum muslimin memperhatikan kepada-Nya dan agar hal tersebut mengingatkan mereka akan besarnya manfaat dan impressinya. Oleh karena itu, barang siapa terluput atau terlena dari suatu amal perbuatan pada salah satunya, maka hendaklah ia berusaha menggantikannya pada saat yang lain.
Dalam Al-Qur’anul Karim Surat Al-Ashr (103): 1-3, Allah berfirman yang artinya sebagai berikut.
1. Demi masa.
2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.
Ayat di atas menjelaskan bahwa manusia memang benar-benar berada dalam kerugian apabila tidak memanfaatkan waktu yang telah diberikan oleh Allah secara optimal untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan baik. Hanya individu-individu yang beriman dan kemudian mengamalkannyalah yang tidak termasuk orang yang merugi, serta mereka bermanfaat bagi orang banyak dengan melakukan aktivitas dakwah dalam banyak tingkatan. Setiap muslim yang memahami ayat di atas, tentu saja berupaya secara optimal mengamalkannya. Dalam kondisi kekinian dimana banyak sekali ragam aktivitas yang harus ditunaikan, ditambah pula berbagai kendala dan tantangan yang harus dihadapi.
Dalam ajaran Islam, ciri-ciri seorang muslim yang ideal adalah pribadi yang menghargai waktu. Seorang Muslim memiliki kewajiban untuk mengelola waktunya dengan baik. Ajaran Islam menganggap pemahaman terhadap hakikat menghargai waktu sebagai salah satu indikasi keimanan dan bukti ketaqwaan, sebagaimana tersirat dalam surah Al-Furqan ayat 62 yang berbunyi: “Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.”
Seorang muslim haruslah pandai untuk mengatur segala aktivitasnya agar dapat mengerjakan amal shalih setiap saat, baik secara vertikal maupun horizontal. Secara vertikal, dirinya menginginkan sebagai ahli ibadah, dengan aktivitas qiyamullail, shaum sunnah, bertaqarrub illallah, dan menuntut ilmu-ilmu syar’i. Dalam hubungannya secara horizontal, ia menginginkan bermuamalah dengan masyarakat, mencari maisyah bagi keluarganya, menunaikan tugas dakwah di lingkungan masyarakat, maupun di tempat-tempat lainnya. Dalam sejarah Rasulullah saw. dan orang-orang Muslim generasi pertama, terungkap bahwa mereka sangat memperhatikan waktu, sehingga mereka mampu menghasilkan sejumlah ilmu yang bermanfaat dan sebuah peradaban yang mengakar kokoh dengan panji yang menjulang tinggi. Jika kita sadar bahwa pentingya manajemen waktu, maka tentu kita akan berbuat untuk dunia ini seolah-olah akan hidup abadi, dan berbuat untuk akhirat seolah-olah akan mati esok hari.

Karakteristik waktu

Waktu mempunyai karakteristik khusus yang istimewa. Kita wajib mengerti secara sungguh-sungguh dan wajib mempergunakannya sesuai dengan pancaran cahayanya. Di antara karakteristik waktu adalah sebagai berikut:
a. Cepat habis. Waktu itu berjalan laksana awan dan lari bagaikan angin, baik waktu senang atau suka ria maupun saat susah atau duka cita. Apabila yang sedang dihayati itu hari-hari gembira, maka lewatnya masa itu terasa lebih cepat, sedangkan jika yang dihayati itu waktu prihatin, maka lewatnya masa-masa itu terasa lambat. Namun, pada hakikatnya tidaklah demikian, karena perasaan tersebut hanyalah perasaan orang yang sedang menghayati masa itu sendiri. Kendati umur manusia dalam kehidupan dunia ini cukup panjang, namun pada hakikatnya umur manusia hanya sebentar, selama kesudahan yang hidup itu tibalah saat kematian. Dan tatkala mati telah merenggut, maka tahun-tahun dan masa yang dihayati manusia telah selesai, hingga laksana kejapan mata yang lewat bagaikan kilat yang menyambar.\
b. Waktu yang telah habis tak akan kembali dan tak mungkin dapat diganti. Inilah ciri khas waktu dari berbagai karakteristik khusus waktu. Setiap hari yang berlalu, setiap jam yang habis dan setiap kejapan mata yang telah lewat, tidak mungkin dapat dikembalikan lagi dan tidak mungkin dapat diganti.
c. Modal terbaik bagi manusia. Oleh karena waktu sangat cepat habis, sedangkan yang telah lewat tak akan kembali dan tidak dapat diganti dengan sesuatu pun, maka waktu merupakan modal terbaik. Modal yang paling indah dan paling berharga bagi manusia. Keindahan waktu itu dapat diketahui melalui fakta bahwa waktu merupakan wadah bagi setiap amal perbuatan dan segala produktivitas. Karena itulah, maka secara realistis waktu itu merupakan modal yang sesungguhnya bagi manusia, baik secara individu (perorangan) maupun kolektif atau kelompok masyarakat.

Kiat menyikapi waktu

Kiat yang benar untuk menyikapi waktu menurut Islam, ialah pandangan yang mencakup masa lalu, masa sekarang dan masa depan secara keseluruhan. Oleh karena itu, manusia wajib melihat, mengisi, dan mempersiapkan ketiga masa tersebut.
a. Wajib melihat masa lalu. Melihat ke masa lalu, dimaksudkan untuk mengambil pelajaran dengan segala peristiwa yang terjadi pada masa tersebut. Menerima nasihat dengan kejadian yang dialami umat saat itu dan sunnatullah terhadapa mereka, sebab masa lalu merupakan wadah peristiwa dan khazanah pelajaran.
b. Melihat masa depan. Melihat ke masa depan memang hal wajib, sebab manusia itu sesuai dengan fitrahnya senantiasa terikat ke masa depan. Ia tak akan dapat melupakannya atau menyembunyikannya di balik kedua telinganya. Sebagaimana manusia itu diberi rezeki ingatan yang menghubungkannya dengan masa lalu dan apa yang terjadi di dalamnya, maka ia pun diberi rezeki upaya menggambarkan masa depan dan apa yang akan diharapkan.
c. Memperhatikan masa kini. Seorang mukmin berkewajiban melihat ke masa lalu untuk mengambil pelajaran, mengambil manfaat, dan mawas diri. Di samping itu, juga perlu melihat masa depan untuk mempersiapkan perbekalan. Maka, ada kewajiban untuk memperhatikan masa kini, yaitu masa di mana secara nyata kita sedang menjalani dan menghayatinya, agar kita dapat menggunakannya sebelum lepas dan tersia-sia.
Setelah kita mengenal karakteristik waktu dan kiat untuk menyikapinya, yang menjadi pertanyaan di benak kita adalah bagaimana manajemen waktu yang baik menurut Islam. Manajemen waktu untuk merencanakan, mengatur, dan melaksanakan kegiatan-kegiatan yang ada haruslah memiliki landasan-landasan berikut.
1. Pengetahuan kaidah yang rinci tentang optimalisasi waktu
Setiap muslim hendaknya memahami dan mengetahui kaidah-kaidah yang rinci tentang cara mengoptimalkan waktunya. Hal ini bertujuan untuk kebaikan dan kemaslahatan dirinya dan orang lain. Tokoh-tokoh seperti Imam Ibnul Jauzi, Imam Nawawi, dan Imam Suyuthi adalah orang-orang yang menjadi teladan bagi orang-orang yang bisa mengoptimalkan waktu semasa hidupnya.
2. Memiliki manajemen hidup yang baik
Setiap muslim haruslah pandai mengatur segala urusan hidupnya dengan baik, menghindari kebiasaan yang tak jelas, matang dalam pertimbangan dan mempunyai perencanaan sebelum melakukan pekerjaan. Ia harus berpikir, membuat program, mempersiapkan, mengatur dan melaksanakannya.
3. Memiliki Wudhuhul Fikrah
Seorang muslim haruslah memiliki keluasan atau fleksibilitas dalam berpikir, seperti mampu berpikir benar sebelum bertindak, berpengetahuan luas, mampu memahami substansi pemikiran dan paham. Hal itu penting sebagai dasar pengembangan berpikir ilmiah.
4. Visioner
Seorang muslim juga harus memiliki pandangan jauh ke depan, bisa mengantisipasi berbagai persoalan yang akan terjadi di tahun-tahun mendatang.
5. Melihat secara utuh setiap persoalan
Setiap orang yang dapat mengatur waktunya secara optimal, tidak melihat masalah secara parsial. Karena bisa jadi, sebuah persoalan memiliki kaitan dengan persoalan yang lainnya.
6. Mengetahui Perencanaan dan skala prioritas
Mengetahui urutan ibadah dan prioritas, serta mengklasifikasi berbagai masalah adalah faktor penting dalam mengatur waktu agar menghasilkan kerja yang optimal. Dengan membuat skala prioritas, akan menghindarkan dari ketidakteraturan kegiatan.
7. Tidak Isti’jal dalam mengerjakan sesuatu
Mengerjakan sesuatu dengan tidak tergesa-gesa dan berdasar pada ketenangan jiwa yang stabil merupakan landasan yang penting dalam mewujudkan hidup yang lebih baik. Sementara, orang yang musta’jil menginginkan agar dalam waktu singkat ia mampu melakukan hal-hal yang terpuji, sekaligus meninggalkan hal-hal yang tidak terpuji. Hal ini jelas tidak sesuai dengan sunah kauniyah, yaitu hukum alam dan kebiasaan.
8. Berupaya seoptimal mungkin
Jika kita menginginkan terwujudnya aktivitas amal shalih, maka secara optimal kita harus mengarahkan diri pada persoalan itu sesuai kemampuan yang ada pada diri kita.
9. Spesialisasi dan pembagian pekerjaan
Setiap muslim haruslah memiliki keahlian tertentu. Ia boleh memiliki pengetahuan luas, tetapi ia juga perlu memfokuskan pada keahlian tertentu.

Syarat dan perencanaan menyikapi waktu

Landasan-landasan di atas hanya dapat dipenuhi, jika telah memenuhi syarat sebagai berikut.
1. Disiplin dan Pembiasaan sejak dini
Penanaman disiplin akan waktu, menghargai waktu sejak kecil merupakan hal penting. Dengan demikian, seseorang akan terbiasa untuk mengatur hidupnya secara mandiri dan optimal untuk merencanakan berbagai macam aktivitas. Disiplin terkait dengan ibadah, tidur, makan, termasuk senda gurau. Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Berilah istirahat hati karena kalau dipaksakan akan membabi buta.”
2. Memiliki kecerdasan dan kejeniusan
Munculnya indikasi kecerdasan pada seseorang merupakan faktor penting untuk bisa mewujudkan hal di atas.
3. Memiliki kondisi fisik dan mental yang positif
Untuk melaksanakan manajemen waktu yang optimal, memang perlu ditunjang dengan adanya keinginan yang kuat, tindakan yang terus menerus, aktif, lapang dada, penuh optimisme, berpengetahuan luas, mampu memadukan berbagai pemikiran dan mampu mengendalikan emosi, seperti sedih, berduka dan susah, di samping memiliki budi pekerti dan akhhlak yang tinggi.
4. Memiliki ketrampilan
Pengetahuan yang luas, tanpa diiringi dengan ketrampilan hanya akan menjadi aksi yang tidak kongkret. Banyak orang yang pandai berbicara, tetapi hanya sedikit orang yang bisa bekerja dan menekuni bidang pekerjaannya.
Dalam manajemen waktu, tentunya perencanaan merupakan salah satu hal yang penting. Dalam membuat perencanaan, ada enam hal yang harus kita perhatikan, yaitu:
1. Niat yang Kuat
Niat sama artinya dengan motivasi yang kuat. Tanpa adanya niat, kita tidak akan pernah berhasil dalam beramal. Tahun, bulan, atau hari tidak akan pernah menjadi tahun, bulan, atau hari yang berprestasi, jika kita tidak berniat untuk mengisinya dengan amal terbaik dan niat seorang muslim adalah melakukan amal ibadah setiap waktu karena Allah swt. Jika itu yang kita lakukan, semuanya akan memiliki nilai ibadah.
2. Memiliki Tujuan yang Jelas
Tanpa adanya tujuan yang jelas, kita tidak akan fokus melangkah. Makin tidak jelas tujuan dan waktu pencapaiannya maka peluang gagalnya rencana kita akan makin besar. Dan tujuan kita melakukan amal ibadah dalam mengisi waktu-waktu kita adalah berharap ridha Allah swt.
 Pelajari pula teknik membuat rencana dan segera membuat rencana yang matang dan teruji. Buat program dalam bentuk rencana harian, mingguan, dan bulanan.
Di sini penting pula memahami skala prioritas, mana yang harus didahulukan, dan mana pula yang bisa ditunda, mana yang harus di kerjakan, mana pula yang tidak. Dr. Yusuf Al-Qardhawi dalam Fikih Prioritas, mengungkapkan urutan amal yang terpenting diantara yang penting. Patokannya :
 -Sangat Penting dan Sangat Mendesak dikerjakan pada urutan Pertama.
-Tidak Penting dan Sangat Mendesak dikerjakan pada urutan Kedua.
-Sangat Penting dan Tidak Mendesak dikerjakan pada urutan Ketiga.
-Tidak Penting dan Tidak mendesak dikerjakan pada urutan Keempat.
3. Buat Rencana Cadangan
Kita pun harus selalu siap dengan segala kemungkinan tak terduga. Kita merencanakan, tapi Allah yang menentukan. Karena itu, buat rencana B dan C sebagai rencana cadangan jika rencana utama mengalami kegagalan. Insya Allah kita tidak akan kehilangan waktu untuk panik.
4. Rencana atau Program Harus Realistis, Terukur, dan Adil
Hindari membuat rencana yang terlalu tinggi, tidak realistis, dan terlalu sulit dicapai. Program kita pun harus adil dan seimbang. Sebab kita harus menunaikan banyak hak, di mana setiap hak menuntut pemenuhan. Ada hak Allah, hak keluarga, dan hak akal, hak tetangga, hak badan, hak diri.
5. Disiplin dalam Rencana.
Sehebat apapun program dan rencana, tidak akan berarti sama sekali jika kita tidak disiplin melaksanakannya. Karena itu, jangan tergiur oleh kegiatan, kesenangan spontan, atau apa saja yang akan menjauhkan kita dari rencana yang telah disusun.
Selain itu, yang tak kalah penting, lawan dan kalahkan rasa malas. Tidak ada amal yang terlaksana jika kita malas. Malas adalah kendaraan setan. Malas tidak akan mendatangkan apapun, selain kerugian dan kesengsaraan. Ada satu prinsip, “Tiada Prestasi tanpa Disiplin”. Siapa lagi yang dapat memaksa kita untuk sukses selain diri kita sendiri.
6. Sempurnakan Setiap Kali Beramal.
Penyempurnaan adalah tahap akhir yang akan menentukan berkualitas tidak amal ibadah yang kita lakukan. Kita akan mendapatkan yang ‘terbaik’, jika melakukan yang terbaik pula. Dengan merencanakan apa yang akan kita lakukan hari ini, kita akan berjalan di hari-hari ini dengan baik. Sehingga waktu yang terlewati akan bermanfaat sebagai amal ibadah kita hari ini.
Semua itu tentu saja harus diatur secara baik, agar apa yang kita inginkan dapat terlaksana secara optimal, tanpa harus meninggalkan yang lain. Misalnya, ada orang yang lebih memfokuskan amalan-amalan untuk bertaqarrub ilallah, tanpa bermu’amalah dengan masyarakat. Ada juga yang lebih mementingkan kegiatan muamalah dengan masyarakat, tetapi mengesampingkan kegiatan amalan ruhiyahnya.
Dari perintah-perintah Allah saw. dan sejarah perjalanan hidup Rasulullah terkandung hikmah yang dalam bagaimana kita sebagai muslim harus menata waktu dengan sebaik-baiknya. Allah swt. telah menunjukkan kepada kita dengan penataan waktu shalat, perjalanan siang dan malam yang sudah tertata dengan baik dan terencana. Itu semua menjadi petunjuk bagi kita bagaimana harus menata waktu ini dengan satu perencanaan dan pelaksanaannya dilakukan dengan sungguh-sungguh. Dan kemudian melakukan muhasabah sesudah pelaksanaannya, yaitu evaluasi diri atas apa yang telah kita lakukan. Wallahu a’lam.
Sumber: Manajemen Waktu Islami karangan Yusuf Qardhawi