Minggu, 24 November 2013




Memperbanyak puasa selama bulan Muharram

Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أفضل الصيام بعد رمضان ، شهر الله المحرم
“Sebaik-baik puasa setelah Ramadlan adalah puasa di bulan Allah, bulan Muharram.” (HR. Muslim)

Dari Ibn Abbas radliallahu ‘anhuma, beliau mengatakan:
ما رأيت النبي صلى الله عليه وسلم يتحرى صيام يوم فضَّلة على غيره إلا هذا اليوم يوم عاشوراء ، وهذا الشهر – يعني شهر رمضان
“Saya tidak pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memilih satu hari untuk puasa yang lebih beliau unggulkan dari pada yang lainnya kecuali puasa hari Asyura’, dan puasa bulan Ramadhan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Puasa Asyura’ (puasa tanggal 10 Muharram)
Dari Abu Musa Al Asy’ari radliallahu ‘anhu, beliau mengatakan:
كان يوم عاشوراء تعده اليهود عيداً ، قال النبي صلى الله عليه وسلم : « فصوموه أنتم ».
Dulu hari Asyura’ dijadikan orang yahudi sebagai hari raya. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Puasalah kalian.” (HR. Al Bukhari)

Dari Abu Qatadah Al Anshari radliallahu ‘anhu, beliau mengatakan:
سئل عن صوم يوم عاشوراء فقال كفارة سنة
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa Asyura’, kemudian beliau menjawab: “Puasa Asyura’ menjadi penebus dosa setahun yang telah lewat.” (HR. Muslim dan Ahmad).

Dari Ibn Abbas radliallahu ‘anhuma, beliau mengatakan:
قَدِمَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – الْمَدِينَةَ وَالْيَهُودُ تَصُومُ عَاشُورَاءَ فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ ظَهَرَ فِيهِ مُوسَى عَلَى فِرْعَوْنَ . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – لأَصْحَابِهِ «أَنْتُمْ أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْهُمْ ، فَصُومُوا».
Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai di Madinah, sementara orang-orang yahudi berpuasa Asyura’. Mereka mengatakan: Ini adalah hari di mana Musa menang melawan Fir’aun. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabat: “Kalian lebih berhak terhadap Musa dari pada mereka (orang yahudi), karena itu berpuasalah.” (HR. Al Bukhari)

Keterangan:
Puasa Asyura’ merupakan kewajiban puasa pertama dalam islam, sebelum Ramadlan. Dari Rubayyi’ binti Mu’awwidz radliallahu ‘anha, beliau mengatakan:
أرسل النبي صلى الله عليه وسلم غداة عاشوراء إلى قرى الأنصار : ((من أصبح مفطراً فليتم بقية يومه ، ومن أصبح صائماً فليصم)) قالت: فكنا نصومه بعد ونصوّم صبياننا ونجعل لهم اللعبة من العهن، فإذا بكى أحدهم على الطعام أعطيناه ذاك حتى يكون عند الإفطار
Suatu ketika, di pagi hari Asyura’, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus seseorang mendatangi salah satu kampung penduduk Madinah untuk menyampaikan pesan: “Siapa yang di pagi hari sudah makan maka hendaknya dia puasa sampai maghrib. Dan siapa yang sudah puasa, hendaknya dia lanjutkan puasanya.” Rubayyi’ mengatakan: Kemudian setelah itu kami puasa, dan kami mengajak anak-anak untuk berpuasa. Kami buatkan mereka mainan dari kain. Jika ada yang menangis meminta makanan, kami memberikan mainan itu. Begitu seterusnya sampai datang waktu berbuka. (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Setelah Allah wajibkan puasa Ramadlan, puasa Asyura’ menjadi puasa sunnah. A’isyah radliallahu ‘anha mengatakan:
كان يوم عاشوراء تصومه قريش في الجاهلية ،فلما قد المدينة صامه وأمر بصيامه ، فلما فرض رمضان ترك يوم عاشوراء ، فمن شاء صامه ، ومن شاء تركه
Dulu hari Asyura’ dijadikan sebagai hari berpuasa orang Quraisy di masa jahiliyah. Setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau melaksanakn puasa Asyura’ dan memerintahkan sahabat untuk berpuasa. Setelah Allah wajibkan puasa Ramadlan, beliau tinggalkan hari Asyura’. Siapa yang ingin puasa Asyura’ boleh puasa, siapa yang tidak ingin puasa Asyura’ boleh tidak puasa. (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Puasa Tasu’a (puasa tanggal 9 Muharram)

Dari Ibn Abbas radliallahu ‘anhuma, beliau menceritakan:
حين صام رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم عاشوراء وأمر بصيامه ، قالوا : يا رسول الله ! إنه يوم تعظمه اليهود والنصارى ، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ((فإذا كان العام المقبل ، إن شاء الله ، صمنا اليوم التاسع )) . قال : فلم يأت العام المقبل حتى تُوفي رسول الله صلى الله عليه وسلم
Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan puasa Asyura’ dan memerintahkan para sahabat untuk puasa. Kemudian ada sahabat yang berkata: Ya Rasulullah, sesungguhnya hari Asyura adalah hari yang diagungkan orang yahudi dan nasrani. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tahun depan, kita akan berpuasa di tanggal sembilan.” Namun, belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamsudah diwafatkan. (HR. Al Bukhari)

Adakah anjuran puasa tanggal 11 Bulan Muharram?

Sebagian ulama berpendapat, dianjurkan melaksanakan puasa tanggal 11 Muharram, setelah puasa Asyura’. Pendapat ini berdasarkan hadis:
صوموا يوم عاشوراء وخالفوا فيه اليهود وصوموا قبله يوما أو بعده يوما
“Puasalah hari Asyura’ dan jangan sama dengan model orang yahudi. Puasalah sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.” (HR. Ahmad, Al Bazzar).
Hadis ini dihasankan oleh Syaikh Ahmad Syakir. Hadis ini juga dikuatkan hadis lain, yang diriwayatkan Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra dengan lafadz:
صوموا قبله يوماً وبعده يوماً
“Puasalah sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya.”
Dengan menggunakan kata hubung وَ (yang berarti “dan”) sementara hadis sebelumnya menggunakan kata hubung أَوْ (yang artinya “atau”).

Al-Hafidz Ibn Hajar menjelaskan status hadis di atas:
Hadis ini diriwayatkan Ahmad dan al-Baihaqi dengan sanad dhaif, karena keadaan perawi Muhammad bin Abi Laila yang lemah. Akan tetapi dia tidak sendirian. Hadis ini memiliki jalur penguat dari Shaleh bin Abi Shaleh bin Hay. (Ittihaf al-Mahrah, hadis no. 2225)
Demikian keterangan Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Munajed.
Sementara itu, ulama lain berpendapat bahwa puasa tanggal 11 tidak disyariatkan, karena hadis ini sanadnya dhaif. Sebagaimana keterangan Al Albani dan Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam ta’liq musnad Ahmad. Hanya saja dianjurkan untuk melakukan puasa tiga hari, jika dia tidak bisa memastikan tanggal 1 Muharam, sebagai bentuk kehati-hatian.

Imam Ahmad mengatakan:
Jika awal bulan Muharram tidak jelas maka sebaiknya puasa tiga hari: (tanggal 9, 10, dan 11 Muharram), Ibnu Sirrin menjelaskan demikian. Beliau mempraktekkan hal itu agar lebih yakin untuk mendapatkan puasa tanggal 9 dan 10. (Al Mughni, 3/174. Diambil dari Al Bida’ Al Hauliyah, hal. 52).
Disamping itu, melakukan puasa 3 hari, di tanggal 9, 10, dan 11 Muharram, masuk dalam cakupan hadis yang menganjurkan untuk memperbanyak puasa selama di bulan Muharram. Sebagaimana yang dinyatakan dalam hadis dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sebaik-baik puasa setelah Ramadlan adalah puasa di bulan Allah, bulan Muharram.” (HR. Muslim)
Ibnul Qayim menjelaskan bahwa puasa terkait hari Asyura ada tiga tingkatan:
  1. Tingkatan paling sempurna, puasa tiga hari. Sehari sebelum Asyura, hari Asyura, dan sehari setelahnya.
  2. Tingkatan kedua, puasa tanggal 9 dan tanggal 10 Muharram. Ini berdasarkan banyak hadis.
  3. Tingkatan ketiga, puasa tanggal 10 saja.
(Zadul Ma’ad, 2/72)

Bolehkah puasa tanggal 10 saja?

Sebagian ulama berpendapat, puasa tanggal 10 saja hukumnya makruh. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berencana untuk puasa tanggal 9, di tahun berikutnya, dengan tujuan menyelisihi model puasa orang yahudi. Ini merupakan pendapat Syaikh Ibn Baz rahimahullah.
Sementara itu, ulama yang lain berpendapat bahwa melakukan puasa tanggal 10 saja tidak makruh. Akan tetapi yang lebih baik, diiringi dengan puasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya, dalam rangka melaksanakan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dalam majmu’ fatawa, Syaikh Ibnu Utsaimin pernah ditanya:
Bolehkah puasa tanggal 10 Muharam saja, tanpa puasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya. Mengingat ada sebagian orang yang mengatakan bahwa hukum makruh untuk puasa tanggal 10 muharram telah hilang, disebabkan pada saat ini, orang yahudi dan nasrani tidak lagi melakukan puasa tanggal 10.
Beliau menjawab:
Makruhnya puasa pada tanggal 10 saja, bukanlah pendapat yang disepakati para ulama. Diantara mereka ada yang berpendapat tidak makruh melakukan puasa tanggal 10 saja, namun sebaiknya dia berpuasa sehari sebelumnya atau sehari setelahnya. Dan puasa tanggal 9 lebih baik dari pada puasa tanggal 11. Maksudnya, yang lebih baik, dia berpuasa sehari sebelumnya, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Jika saya masih hidup tahun depan, saya akan puasa tanggal sembilan (muharram).” maksud beliau adalah puasa tanggal 9 dan 10 muharram….. Pendapat yang lebih kuat, melaksanakan puasa tanggal 10 saja hukumnya tidak makruh. Akan tetapi yang lebih baik adalah diiringi puasa sehari sebelumnya atau sehari setelahnya. (Majmu’ Fatawa Ibn Utsaimin, 20/42)

Artikel KonsultasiSyariah.com

Sabtu, 23 November 2013

 

Nabi Samson, Nabi Yang Tidak Memiliki Pengikut 1 Orang-pun. Kisah Nabi Sam’un Ghozi AS ( Samson ) salah satu dari 124.000 Nabi. Seperti yang diketahui di dalam ajaran Islam, bahwa Jumlah Nabi menurut hadits yaitu 124.000 Orang, dan Rasul berjumlah 312 Orang, sesuai rukun iman ke-4 di dalam rukun iman diwajibkan untuk mengetahui 25 orang nabi dan rasul.

Dari Abi Zar ra, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ketika ditanya tentang jumlah para nabi,
” Jumlah para nabi itu adalah seratus dua puluh empat ribu ( 124.000 ) nabi.”
” Lalu berapa jumlah Rasul di antara mereka ? ”
Beliau menjawab, ” Tiga ratus dua belas ( 312 ) Orang. ”
( Hadits Riwayat At-Turmuzy )

Samson atau Simson, merupakan seorang nabi di dalam ajaran islam yang dikenal dengan nama Nabi Sam’un Ghozi AS. Kisah nabi ini, terdapat di dalam kitab-kitab, seperti kitab Muqasyafatul Qulub dan kitab Qishashul Anbiyaa. Nabi Sam’un Ghozi AS memiliki kemukjizatan, yaitu dapat melunakkan besi, dan dapat merobohkan istana.

Cerita Nabi Sam’un Ghozi AS adalah kisah Israiliyat yang diceritakan turun-temurun di jazirah Arab. Cerita ini melegenda jauh sebelum Rasulullah lahir. Dari kitab Muqasyafatul Qulub karangan al Ghazali, diceritakan bahwa Rasulullah berkumpul bersama para sahabat dibulan Suci Ramadhan.

Kemudian Rasulullah bercerita tentang seorang Nabi bernama Sam’un Ghozi AS, beliau adalah Nabi dari Bani Israil yang diutus di tanah Romawi. Dikisahkan Nabi Sam’un Ghozi AS berperang melawan bangsa yang menentang Ketuhanan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketangguhan dan keperkasaan Nabi Sam’un dipergunakan untuk menentang penguasa kaum kafirin saat itu, yakni raja Israil.

Akhirnya sang raja Israil mencari jalan untuk menundukkan Nabi Sam’un. Berbagai upaya pun dilakukan olehnya, sehingga akhirnya atas nasehat para penasehatnya diumumkanlah, barang siapa yang dapat menangkap Sam’un Ghozi, akan mendapat hadiah emas dan permata yang berlimpah.

Singkat cerita Nabi Sam’un Ghozi AS terpedaya oleh isterinya. Karena sayangnya dan cintanya kepada isterinya, nabi Sam’un berkata kepada isterinya,
”Jika kau ingin mendapatkanku dalam keadaan tak berdaya, maka ikatlah aku dengan potongan rambutku.”

Akhirnya Nabi Sam’um Ghozi AS diikat oleh istrinya saat ia tertidur, lalu dia dibawa ke hadapan sang raja.
Beliau disiksa dengan dibutakan kedua matanya dan diikat serta dipertontonkan di istana raja. Karena diperlakukan yang sedemikian hebatnya, Nabi Sam’un Ghozi AS berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beliau berdoa dengan dimulai dengan bertaubat, kemudian memohon pertolongan atas kebesaran Allah. Do’a Nabi Sam’un dikabulkan, dan istana raja bersama seluruh masyarakatnya hancur beserta isteri dan para kerabat yang mengkhianatinya.

Kemudian nabi bersumpah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, akan menebus semua dosa-dosanya dengan berjuang menumpas semua kebathilan dan kekufuran yang lamanya 1000 bulan tanpa henti. Semua itu atas Hidayah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ketika Rasulullah selesai menceritakan cerita Nabi Sam’un Ghozi AS yang berjuang fisabilillah selama 1000 bulan, salah satu sahabat nabi berkata :
” Ya Rasulullah, kami ingin juga beribadah seperti nabiyullah Sam’un Ghozi AS. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, diam sejenak.
Kemudian Malaikat Jibril AS datang dan mewahyukan kepada beliau, bahwa pada bulan Ramadhan ada sebuah malam, yang mana malam itu lebih baik daripada 1000 bulan.

Pada kitab Qishashul Anbiyaa, dikisahkan, bahwa Rasullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tesenyum sendiri, lalu bertanyalah salah seorang sahabatnya,
” Apa yang membuatmu tersenyum wahai Rasulullah ? ”
Rasullah menjawab, ” Diperlihatkan kepadaku hari akhir ketika dimana seluruh manusia dikumpulkan di mahsyar . Semua Nabi dan Rasul berkumpul bersama umatnya masing- masing, masuk ke dalam surga.
Ada salah seorang nabi yang dengan membawa pedang, yang tidak mempunyai pengikut satupun, masuk ke dalam surga, dia adalah Sam’un. ”

Demikian kisah Nabi Sam’un Ghozi AS atau yang lebih dikenal dengan Samson atau Simson .
Semoga dari kisah ini, dapat kita petik sebuah pelajaran di dalamnya .
Wassalam . ( ^ _ ^ )/

Sumber : http://alhurriyyah.lk.ipb.ac.id/kisah-nabi-samson/

Jumat, 22 November 2013


Saat menyanyikan lagu Indonesia Raya pada acara pembukaan di Auditorium Poltekkes Palembang

Sabtu, 16 November 2013 bertempat di Auditorium Poltekkes Palembang diadakan Pembukaan Kegiatan Jannah For Mujahid (JFM) 1435 H. Kegiatan ini merupakan program kerja dari Departemen Syiar dengan megusung Tema “Jalinan Ukhuwah Untuk Muharram Jadikan Hidayah”. Kegiatan ini diadakan bertujuan untuk memperingati datangnya 1 Muharram 1345 H dan mempererat tali silaturahmi antar setiap jurusan di lingkungan Poltekkes Palembang. Kegiatan JFM 1345 H ini diikuti oleh 6 jurusan di lingkungan Poltekkes Palembang, yaitu Keperawatan, Kebidanan, Farmasi, Keperawatan Gigi, Gizi, dan Analis Kesehatan. Kegiatan ini dilaksanakan selama 2 hari mulai tanggal 16 sampai 17 November 2013. Hari pertama dipertandingkan perlombaan nasyid, dai dan daiyah, kaligrafi. Hari kedua dipertandingkan lomba drama islami, adzan, cerdas cermat, dan puisi islami.

Dari kiri ke kanan : Ketua BEM, Pembina LDK, Ketua LDK, dan Ketua Puskomda Sumsel

Piala yang diperebutkan oleh setiap peserta dari masing-masing jurusan yang berbeda

Kegiatan ini dibuka langsung oleh Pembina LDK Mizan Poltekkes Palembang yaitu Bapak Sopyan, S.Sos sekaligus sebagai Kepala Sub Bagian Administrasi Umum (ADUM) Poltekkes Kemenkes Palembang. Dalam sambutannya, “Saya sangat bangga terhadap LDK Mizan terutama kepada Ketua LDK Mizan dan kepada para panitia yang telah membuat acara yang bagus ini. Semoga kita semua termasuk dalam tujuh  golongan yang dijanjikan oleh Allah SWT". Kata sambutan lain dari Ketua Puskomda LDK Sumatera Selatan dalam hal ini diwakilkan oleh Sekertaris Umum Puskomda yaitu Suherman, "Kami dari Puskomda FSLDK Sumsel yaitu pusat komunikasi daerah forum silaturrahim LDK Sumatera Selatan yang menaungi seluruh LDK yang ada di Sumatera Selatan, termasuk LDK Mizan yang saat ini melaksanakan acara yang luar biasa dengan tema Jannah For Mujahid. Walaupun kegiatan ini bersifat kompetisi, tapi berkompetisilah dengan baik sesuai ajaran Islam sehingga tercapai tujuan dari pada kegiatan ini yaitu menjalin Ukhuwah untuk Muharram Jadikan Hidayah.
Adapun kata sambutan lain oleh yang mewakili Ketua DLM Poltekkes Palembang, Ketua BEM Poltekkes Palembang, Ketua LDK Poltekkes Palembang dan Ketua Pelaksana JFM 1435 H. “Ini merupakan kegiatan setiap tahun, jadi kita mengadakan kegaiatan ini bertujuan untuk mengembangkan minat dan bakat serta memperkuat tali silaturahim”. Ungkap Anggun Silvia selaku Ketua Pelaksana JFM 1345 H.
Penampilan drama dari Jurusan Farmasi sebagai Juara I Lomba Drama Islami
Penampilan nasyid dari Jurusan Analis Kesehatan sebagai Juara III Lomba Nasyid



 Achmad Faisal Rosyadi selaku Ketua LDK Mizan menguangkapakan, “Kegiatan ini sebaiknya dijadikan ajang silaturahmi kita semua di lingkungan Poltekkes Palembang. Harapannya supaya acara berlangsung dengan lancar tanpa halangan yang berarti. Dan bisa menghormati keputusan dewan juri”. Para peserta yang sangat antusias mengikuti acara yang berlangsung selama dua hari. Tak lupa Biro Dana dan Usaha membuka stan makanan dan minuman. Diikuti pula oleh Departemen Kemuslimahan membuka bazar buku. Hari kedua, soreharinya merupakan saat pengumuman pemenang lomba. Sebagai juara umum dari kegiatan JFM 1435 H adalah Jurusan Keperawatan. (mkkt)

Oleh : Sekertaris Umum dan Biro Kesekretariatan



[1] Dakwah merupakan jalan hidup Rasul dan pengikutnya
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah, Inilah jalanku; aku menyeru kepada Allah di atas landasan ilmu yang nyata, inilah jalanku dan orang-orang yang mengikutiku…” (Qs. Yusuf: 108)
Berdasarkan ayat yang mulia ini Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah mengambil sebuah pelajaran yang amat berharga, yaitu: Dakwah ila Allah (mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah) merupakan jalan orang yang mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang beliau tuliskan di dalam Kitab Tauhid bab Ad-Du’a ila syahadati an la ilaha illallah (Ibthal At-Tandid, hal. 44).

[2] Dakwah merupakan karakter orang-orang yang muflih (beruntung)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Hendaknya ada di antara kalian segolongan orang yang mendakwahkan kepada kebaikan, memerintahkan yang ma’ruf, melarang yang mungkar. Mereka itulah sebenarnya orang-orang yang beruntung.” (Qs. Ali-’Imran: 104)
Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan riwayat dari Abu Ja’far Al-Baqir setelah membaca ayat “Hendaknya ada di antara kalian segolongan orang yang mendakwahkan kepada kebaikan” maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Yang dimaksud kebaikan itu adalah mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah-ku.” (HR. Ibnu Mardawaih) (Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, jilid 2 hal. 66)
Dari Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya! Benar-benar kalian harus memerintahkan yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar, atau Allah akan mengirimkan untuk kalian hukuman dari sisi-Nya kemudian kalian pun berdoa kepada-Nya namun permohonan kalian tak lagi dikabulkan.” (HR. Ahmad, dinilai hasan Al-Albani dalam Sahih Al-Jami’ hadits no. 7070. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, jilid 2 hal. 66)

[3] Dakwah merupakan ciri umat yang terbaik
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Kalian adalah umat terbaik yang dikeluarkan bagi umat manusia, kalian perintahkan yang ma’ruf dan kalian larang yang mungkar, dan kalian pun beriman kepada Allah…” (Qs. Ali-’Imran: 110)
Ibnu Katsir mengatakan, “Pendapat yang benar, ayat ini umum mencakup segenap umat (Islam) di setiap jaman sesuai dengan kedudukan dan kondisi mereka masing-masing. Sedangkan kurun terbaik di antara mereka semua adalah masa diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian generasi sesudahnya, lantas generasi yang berikutnya.” (Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, jilid 2 hal. 68)

[4] Dakwah merupakan sikap hidup orang yang beriman
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Orang-orang yang beriman lelaki dan perempuan, sebahagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain. Mereka memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar,…” (Qs. At-Taubah: 71)
Inilah sikap hidup orang yang beriman, berseberangan dengan sikap hidup orang-orang munafiq yang justru memerintahkan yang mungkar dan melarang dari yang ma’ruf. Allah ta’ala menceritakan hal ini dalam firman-Nya (yang artinya), “Orang-orang munafiq lelaki dan perempuan, sebahagian mereka merupakan penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka memerintahkan yang mungkar dan melarang yang ma’ruf…” (Qs. At-Taubah: 67)

[5] Meninggalkan dakwah akan membawa petaka
Allah ta’ala berfirman tentang kedurhakaan orang-orang kafir Bani Isra’il (yang artinya), “Telah dilaknati orang-orang kafir dari kalangan Bani Isra’il melalui lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Hal itu dikarenakan kemaksiatan mereka dan perbuatan mereka yang selalu melampaui batas. Mereka tidak melarang kemungkaran yang dilakukan oleh sebagian di antara mereka, amat buruk perbuatan yang mereka lakukan itu.” (Qs. Al-Ma’idah: 78-79)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Tindakan mereka itu (mendiamkan kemungkaran) menunjukkan bahwa mereka meremehkan perintah Allah, dan kemaksiatan mereka anggap sebagai perkara yang sepele. Seandainya di dalam diri mereka terdapat pengagungan terhadap Rabb mereka niscaya mereka akan merasa cemburu karena larangan-larangan Allah dilanggar dan mereka pasti akan marah karena mengikuti kemurkaan-Nya…” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 241)
Di antara dampak mendiamkan kemungkaran adalah kemungkaran tersebut semakin menjadi-jadi dan bertambah merajalela. Syaikh As-Sa’di telah memaparkan akibat buruk ini, “Sesungguhnya hal itu (mendiamkan kemungkaran) menyebabkan para pelaku kemaksiatan dan kefasikan menjadi semakin lancang dalam memperbanyak perbuatan kemaksiatan tatkala perbuatan mereka tidak dicegah oleh orang lain, sehingga keburukannya semakin menjadi-jadi. Musibah diniyah dan duniawiyah yang timbul pun semakin besar karenanya. Hal itu membuat mereka (pelaku maksiat) memiliki kekuatan dan ketenaran. Kemudian yang terjadi setelah itu adalah semakin lemahnya daya yang dimiliki oleh ahlul khair (orang baik-baik) dalam melawan ahlusy syarr (orang-orang jelek), sampai-sampai suatu keadaan di mana mereka tidak sanggup lagi mengingkari apa yang dahulu pernah mereka ingkari.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 241)

[6] Orang yang berdakwah adalah yang akan mendapatkan pertolongan Allah
Allah berfirman (yang artinya), “Dan sungguh Allah benar-benar akan menolong orang yang membela (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. Mereka itu adalah orang-orang yang apabila kami berikan keteguhan di atas muka bumi ini, mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, memerintahkan yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar. Dan milik Allah lah akhir dari segala urusan.” (Qs. Al-Hajj: 40-41)
Ayat yang mulia ini juga menunjukkan bahwa barangsiapa yang mengaku membela agama Allah namun tidak memiliki ciri-ciri seperti yang disebutkan (mendirikan shalat, menunaikan zakat, memerintahkan yang ma’ruf dan melarang yang mungkar) maka dia adalah pendusta (lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 540).

[7] Dakwah, bakti anak kepada sang bapak
Allah ta’ala mengisahkan nasihat indah dari seorang bapak teladan yaitu Luqman kepada anaknya. Luqman mengatakan (yang artinya), “Hai anakku, dirikanlah shalat, perintahkanlah yang ma’ruf dan cegahlah dari yang mungkar, dan bersabarlah atas musibah yang menimpamu. Sesungguhnya hal itu termasuk perkara yang diwajibkan (oleh Allah).” (Qs. Luqman: 17)
Allah juga menceritakan dakwah Nabi Ibrahim kepada bapaknya. Allah berfirman (yang artinya), “Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim yang terdapat di dalam Al-Kitab (Al-Qur’an). Sesungguhnya dia adalah seorang yang jujur lagi seorang nabi. Ingatlah ketika dia berkata kepada bapaknya; Wahai ayahku. Mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak bisa mencukupi dirimu sama sekali? Wahai ayahku. Sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku niscaya akan kutunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai ayahku. Janganlah menyembah syaitan, sesungguhnya syaitan itu selalu durhaka kepada Dzat Yang Maha Penyayang.” (Qs. Maryam: 41-44)

[8] Dakwah, alasan bagi hamba di hadapan Rabbnya
Allah berfirman (yang artinya), “Dan ingatlah ketika suatu kaum di antara mereka berkata, ‘Mengapa kalian tetap menasihati suatu kaum yang akan Allah binasakan atau Allah akan mengazab mereka dengan siksaan yang amat keras?’ Maka mereka menjawab, ‘Agar ini menjadi alasan bagi kami di hadapan Rabb kalian dan semoga saja mereka mau kembali bertakwa’.” (Qs. Al-A’raaf: 164)
Syaikh As-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Inilah maksud paling utama dari pengingkaran terhadap kemungkaran; yaitu agar menjadi alasan untuk menyelamatkan diri (di hadapan Allah), serta demi menegakkan hujjah kepada orang yang diperintah dan dilarang dengan harapan semoga Allah berkenan memberikan petunjuk kepadanya sehingga dengan begitu dia akan mau melaksanakan tuntutan perintah atau larangan itu.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 307)
Allah berfirman (yang artinya), “Para rasul yang kami utus sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan itu, agar tidak ada lagi alasan bagi manusia untuk mengelak setelah diutusnya para rasul. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Qs. An-Nisaa’: 165).
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di hadapan para sahabat pada hari raya kurban. Beliau berkata, “Wahai umat manusia, hari apakah ini?” Mereka menjawab, “Hari yang disucikan.” Lalu beliau bertanya, “Negeri apakah ini?” Mereka menjawab, “Negeri yang disucikan.” Lalu beliau bertanya, “Bulan apakah ini?” Mereka menjawab, “Bulan yang disucikan.” Lalu beliau berkata, “Sesungguhnya darah, harta, dan kehormatan kalian adalah disucikan tak boleh dirampas dari kalian, sebagaimana sucinya hari ini, di negeri (yang suci) ini, di bulan (yang suci) ini.” Beliau mengucapkannya berulang-ulang kemudian mengangkat kepalanya seraya mengucapkan, “Ya Allah, bukankah aku sudah menyampaikannya? Ya Allah, bukankah aku telah menyampaikannya?”… (HR. Bukhari dalam Kitab Al-Hajj, bab Al-Khutbah ayyama Mina. Hadits no. 1739)
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menerangkan, “Sesungguhnya beliau mengucapkan perkataan semacam itu (Ya Allah bukankah aku sudah menyampaikannya) disebabkan kewajiban yang dibebankan kepada beliau adalah sekedar menyampaikan. Maka beliau pun mempersaksikan kepada Allah bahwa dirinya telah menunaikan kewajiban yang Allah bebankan untuk beliau kerjakan.” (Fath Al-Bari, jilid 3 hal. 652).

[9] Dakwah tali pemersatu umat
Setelah menyebutkan kewajiban untuk berdakwah atas umat ini, Allah melarang mereka dari perpecahan, “Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang berpecah belah dan berselisih setelah keterangan-keterangan datang kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang berhak menerima siksaan yang sangat besar.” (Qs. Ali-’Imran: 105)
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Kalaulah bukan karena amar ma’ruf dan nahi mungkar niscaya umat manusia (kaum muslimin) akan berpecah belah menjadi bergolong-golongan, tercerai-berai tak karuan dan setiap golongan merasa bangga dengan apa yang mereka miliki…” (Majalis Syahri Ramadhan, hal. 102)
***
Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel abu0mushlih.wordpress.com, dipublikasi ulang oleh muslim.or.id
Jannah For Mujahid (JFM) 1345 H merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh Lembaga Dakwah Kampus Mizan Poltekkes Palembang. Tahun ini dengan mengangkat tema Jalinan Ukhuwah Untuk Muharram Jadikan Hidayah.

Jumat, 04 Oktober 2013

 dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung (Ali Imron:104)

     Hari itu adalah hari yang paling menyenangkan bagiku, karena hari itu untuk pertama kali kuinjakkan kaki asaku di kampus ini, menjadi seorang mahasiswa. Sebuah harapan masa depan yang tidak semua orang bisa seberuntung ini mendapatkan kesempatannya.Namun betapa kagetnya diriku ketika masuk ke dalam area kampus, banyak sekali mahasiswi yang pakaiannya ‘aneh’, dan itulah awal kejengkelanku di kampus ‘Islam’ ini bermula. Sebagai anak kampung nan polos hal itu cukup menampar perasaanku. begitu pula saat pembagian kelas. tidak sedikit mahasiswi yang berpenampilan super minim, meski pakai kerudung. Kalo orangnya biasa-biasa aja sih gak masalah. Masalahnya hampir semua ceweknya super cantik-cantik (hehe, maaf jujur),

   Aku hanya geleng-geleng kepala melihat fenomena itu, mengingat ini adalah fakultas pendidikan dan keguruan, ditambah lagi waktu itu adalah bulan suci ramadhan, aku yakin itu adalah awal mula ramadhanku rusak dan tak maksimal. Sampai-sampai aku pernah membuat slogan untuk kampus ini,”tak ada celah disini untuk tidak menjumpai maksiat, kalo ada cewek di kiri, kita membuang muka ke kanan, eh,,di kanan ada juga. Sampai-sampai sebelum berniat jelek kita udah maksiat duluan’.

      Ternyata kampus tidak hanya sebagai pusat godaan, namun juga sarang kesesatan. Dalam perjalananku sebagai seorang aktivis muslim (sebenarnya pasifis muslim,hehe) banyak sekali kudapati isu-isu liberalism, feminism, bahkan komunisme berdesir kencang di kampus ini. Dan sering meracuni fikiran para aktivis kampus yang lagi getol-getolnya bicara pergerakan, (namun maaf, jarang ngaji). Dan terkadang birokrasi kampus pun tidak bisa berbuat banyak untuk menanggulangi itu.

MENTORING KEISLAMAN DAN LDK (Lembaga Dakwah Kampus)

    Keberadaan kegiatan Mentoring dan LDK di tengah kegiatan kampus memang sangat tepat untuk mengislamisasi kampus. Di dalam sebuah universitas, Mentoring merupakan satu kegiatan keislaman kampus yang dimasukkan dalam kalender akademik, diadakan sekali dalam sepekan tepatnya pada hari sabtu, karena hari sabtu merupakan hari kosong perkuliahan. Sedangkan LDK adalah suatu organisasi keislaman kampus yang bertujuan islamisasi kampus. Keduanya eksis Sebagai konsekuensi dari penghadapan para mahasiswa yang bersifat heterogen, juga sebagai jawaban atas tuntutan dakwah. maka eksistensi mentoring dan LDK keislaman bertujuan untuk pengenalan dan pendalaman nilai-nilai keislaman pada mahasiswa, terutama yang angkatan baru, oleh karena itu mentoring dan LDK (seharusnya) bersifat wajib di kampus-kampus. Kegiatannya bermacam-macam, secara teknis diserahkan sepenuhnya kepada pementor atau organisasi yang menjadi wadah, bisa berbentuk kajian tsaqofah, diskusi keislaman, ataupun perbaikan bacaan alqur’an (tahsin). Dengan begitu diharapkan semua mahasiswa baru dibekali dengan nilai-nilai spiritualitas islam.

Mentoring dan LDK, dakwah yang sesungguhnya…

     Dakwah Islam adalah suatu gerakan islam yang bertujuan menyadarkan dan mengembalikan ummat pada keadaan yang semestinya, yaitu sebagai hamba yang secara total bertanggung jawab atas eksistensi dirinya untuk beribadah kepada Allah, menjalankan segala perintah dan menjauhi larangannya, maka tidak akan pernah sampai pada titik itu tanpa adanya ilmu sebagai pencerah, oleh karena itu bentuk-bentuk kegiatan dakwah sangat beragam, biasanya dakwah berbentuk suatu kajian keislaman di masjid-masjid. Sang ustad/dai menerangkan ilmu agama secara ‘jujur’ dan jelas, kemudian masyarakat mendengarkan dengan antusias. Namun di sisi lain, Dalam lingkungan kampus, Sebagaimana yang saya paparkan diatas sebelumnya bahwa keadaan mahasiswa ini sangat heterogen, tidak hanya oleh begitu banyaknya mahasiswa yang belum tahu tentang dasar-dasar islam, belum bisa membaca alqur’an, ataupun yang masih awam dalam urusan ilmu-ilmu syar’ie seperti aqidah, akhlaq, lebih-lebih ilmu Feqih.

     Serta sangat minimnya antusiasme para mahasiswa untuk menuntut ilmu syar’ie di dalam kampus, meskipun banyak sekali organisasi keislaman yang mengadakan kajian-kajian keislaman, yang datang Cuma beberapa mahasiswa. Mereka lebih cenderung mengikuti kegiatan-kegiatan yang berbau fun n’ free, sudah bisa disimpulkan ketika suatu kali ada acara kampus yang berbarengan, kajian keislaman dengan festival band, mana yang lebih meriah??.

     Itulah yang menjadikan alasan betapa mentoring dan LDK merupakan dakwah yang sesungguhnya, karena para dai harus benar-benar totalitas dalam mengajak mahasiswa kepada nilai-nilai keislaman dengan berbagai batu sandungan yang terkadang membuat para mentor mengelus dada,dan lebih dalam lagi, kegiatan mentoring dan LDK berhadapan langsung dengan ideologi-ideologi non syar’ie yang berkembang dikalangan mahasiswa yang kebanyakan memiliki tingkat intelejensi yang tidak rendah. Seperti para aktifis yang teracuni paham sekuler, liberal, feminis, dll,mereka bukanlah mahasiswa yang bodoh, untuk menghadapi dan mencegah penyebaran pengaruhnya butuh kekuatan yang lebih, ilmu yang mumpuni, dan tingkat keberanian juga kesabaran yang tinggi, itu akan menjadi tantangan tersendiri bagi para aktivis mentoring dan LDK ini dalam pengemasannya di kegiatan mentoring dan LDK.

PEMENTOR BUKAN MALAIKAT

    Sebagaimana yang terjadi di kebanyakan instansi ataupun organisasi, bahwa sistem tidak selalu menciptakan kemudahan sebagaimana yang diharapkan, bahkan terkadang bisa menjadi sebuah boomerang bagi organisasi untuk mencapai keefektifan dalam manajerial. Semakin banyak system itu dipegang oleh orang-orang yang tidak kompeten maka semakin sulit system itu berjalan. Maka dalam mentoring dan LDK, tak khayal terjadi kefakuman tujuan, alias stagnasi hasil, apalagi sebagaimana yang kita ketahui, bumbu-bumbu keislaman adalah hal pertama yang paling tidak diminati oleh mahasiswa. Bahkan tidak jarang spanduk-spanduk keislaman seperti jilbabisasi hilang begitu saja.

    Mereka hanya terpaku pada dua point, intelektualitas akademisi dan pergerakan kampus.maka tidak jarang dijumpai acara BEM lebih ramai daripada acara kajian di masjid kampus. Untuk itulah ketika kita mengamati keadaan seperti itu, para pementor benar-benar membutuhkan nilai perjuangan yang tinggi daripada para aktivis yang lain, lebih lebih nilai kesabaran, karena melihat kecilnya harapan, jauh dari yang sebagaimana diharapkan. Bahkan terkadang persiapan yang sudah sangat matang pupus begitu saja karna sedikitnya peserta.
 
      Disisi lain, perbedaan fikroh(pemikiran) para aktivis dakwah cukup mempengaruhi alur dakwah di dalam kampus, keberagaman fikroh tersebut membuat islam terkotak-kotak dari dalam, bahkan terkadang sifat ashobiyah(fanatik golongan) benar-benar menjadi penghalang, seperti gagalnya suatu kegiatan keislaman karena tidak menemukan titik temu saat berdebat dalam koordinasi penentuan pengisi acara. Lebih parah lagi ketika sebuah gerakan konspirasi bergerak lembut di dalam suatu organisasi dakwah untuk kepentingan golongan tertentu. Ironis memang, Manusia tetaplah manusia, hanya bisa merencanakan, Allah lah yang memutuskan hasilnya. Setidaknya niat tulus para pementor juga kesungguhan dalam berdakwah di dalam kampus akan menjadikan titik temu antara ikhtiar dan tawakal.

Harapan itu masih (selalu) ada…

dan di antara orang-orang yang Kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan hak, dan dengan yang hak itu (pula) mereka menjalankan keadilan.(Al A’raf: 181)


      Dengan bekal keimanan serta hasrat yang tinggi untuk meninggikan kalimatullah dengan sangat tinggi di muka bumi, maka langkah-langkah kecil para pejuang peradaban islam di kampus memberikan suatu warna tersendiri dalam perjuangan ini, peluh keringat, pengorbanan waktu, bahkan air mata yang menetes di sela-sela perjuangan dakwah ini menunjukkan, betapa mulianya para penggembar-gembor akidah ini, meskipun dengan hasil yang menyakitkan, terror dan ancaman para sekuleris kampus, bahkan aparat keamanan. tidak menyurutkan langkah-langkah ini dalam menempuh jalan yang lurus, menyampaikan kebenaran dan memurnikan aqidah islam dalam lingkungan kampus.

    Untuk para pejuang peradaban, mari kita singkirkan sejenak egoism diri, dan fanatisme golongan, kita kembali dalam langkah abadi ini, atas nama Allah yang menyeru kepada keindahan syurga, kita rapatkan barisan, kita saling menggengam kebenaran, dengan Alqur’an dan sunnah Rasulullah sebagai satu-satunya pedoman, berlarilah, hingga kaki terseok-seok dan berdarah-darah. Namun jangan pernah berhenti. Karena kita, adalah orang-orang terpilih, para penyeru kebenaran,sebagai oase segar di tengah-tengah kegersangan kampus, atas nama islam…Allahu Akbar..!!
 
Sumber : http://achadinerz.blogspot.com/2011/03/mentoring-dan-ldk-oase-islam-di-padang.html

Sabtu, 21 September 2013

Ikutilah SMILE "Saatnya Mengenal Islam Lebih Efektif"

Jumat, 16 Agustus 2013



SEPANJANG peradaban manusia, kita tahu bahwa pemuda adalah sosok pelopor dalam segala hal. Berbagai perubahan yang terjadi di setiap bangsa, pemuda adalah penggeraknya. Di balik setiap transformasi sosial, motor utamanya tak lain adalah pemuda. Ibarat sang surya, maka pemuda bagaikan sinar matahari yang berada pada tengah hari dengan terik panas yang menyengat.
Berbagai bakat, potensi, kecenderungan, baik mengarah kepada kebaikan maupun kepada kejahatan memiliki dorongan yang sama kuatnya ketika pada masa muda. Itulah sebabnya, kegagalan dan keberhasilan seseorang, kematangan kepribadian manusia pada masa tua ditentukan oleh masa mudanya. Jika mereka adalah para pemuda yang baik dan terdidik dengan adab-adab Islam, maka merekalah yang akan menyebarkan dan mendakwahkan kebaikan Islam serta menjadi nakhoda umat ini yang akan mengantarkan mereka kepada kebaikan dunia dan akhirat.
Oleh karena itulah para Sahabat Nabi yang masih muda memiliki andil dan peran yang sangat besar dalam menyebarkan agama ini baik dari sisi pengajaran maupun dari sisi berjihad di jalan Allah -Subhanahu wa Ta’ala-. Dalam pentas sejarah Islam, dengan mudah kita mendapati pemuda-pemuda yang namanya terukir dengan tinta emas. Mereka layak menjadi uswah (teladan) bagi pemuda generasi sekarang. Panutan yang sangat riil di saat pemuda kini kehilangan figur yang bisa dicontoh.

Potret Pemuda Islam Terkini

Di zaman sekarang, pola hidup pemuda muslim sudah sangat memperihatinkan. Berapa banyak pemuda muslim yang mengunjungi masjid guna menunaikan sholat fardhu dan kegiatan-kegiatan bermanfaat lainnya? Berapa banyak pemuda muslim yang mengkaji dan menghafalkan kitabullah? Berapa banyak pemuda muslim yang mengkaji ilmu agama? Mereka lebih senang menghabiskan waktu luang mereka dengan mengujungi tempat-tempat hiburan seperti Game Center, Rental PS, dkk.
Padahal jika dilihat dari sisi ekonomi, pergi ke tempat seperti itu mengeluarkan biaya dan tidak bermanfaat sedikitpun, bahkan malah membawa bencana. Sedangkan untuk pergi ke masjid, kita tidak usah mengeluarkan uang sepeserpun. Ditambah lagi kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di masjid bermanfaat, dan berpahala.
Kalau kita tanya tentang agama banyak remaja yang mengaku Islam, tapi tidak tahu mengenai, Sirah Nabinya, Sahabatnya, bahkan dulu waktu saat sekolah sudah di ajarkan dalam pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam, tapi waktu kita tanya “Siapa sih Abu Bakar itu??” ada juga yang tidak tahu, belum yang lain ditanya.
Bahkan banyak remaja sekarang tiap pergatian tahun baru selalu mereka merayakan, bersukaria, meniup trompet, malah ada yang berkumpul-kumpul lomba balapan liar yang mengganggu ketentraman masyarakat. Tahun baru yang nyata-nyata merayakan itu bukanlah tahun Islam baik dari historis maupun dari pandangan umum, tapi coba lihat waktu tanggal 1 Muharram tahun Hijriyah apakah ada yang peduli terhadap tahun yang memiliki sejarah bagi orang yang beriman yang sangat berarti sekaligus sebuah sejarah perjuangan Nabi yang bukan hanya untuk diperingati namun juga sebagai sebuah ibrah yang harus kita amalkan pada setiap individu masing-masing maupun seluruhnya.
Coba tanya pada pemuda-pemuda yang mengaku Islam yang mondar mandir di jalanan, coba suruh menyebutkan 12 bulan dalam tahun Masehi, lalu coba suruh menyebutkan 12 bulan pula pada tahun Hijriyah!! Allahu Akbar, bagaimana tidak? Tahun Masehi (Nasrani) mereka hafal, namun tahun Hijriyah tahun agamanya sendiri tidak tahu. Jika bulan Hijriyah saja tidak hafal, lalu bagaimana sejarahnya?
Bagaimana pendapat anda mengenai ini?? Lalu apakah pemuda kita masih ada yang tidak tahu bulannya sendiri?? Budaya di luar Islam banyak merebak hingga mereka buta terhadap agamanya sendiri.

Keteladanan Pemuda Era Rasulullah
Perlu kita fahamkan, bahwa masa muda ialah waktu untuk berkarya, periode emas dimana para pemuda zaman Rasulullah saw. mengerahkan seluruh jiwa dan raganya untuk kemenangan Islam.
Adalah Az Zubair bin Awwam. Ia adalah sosok pemuda teman diskusi Rasulullah, anggota pasukan berkuda, tentara yang pemberani, pemimpin dakwah Islam di zamannya dalam usia 15 tahun. Sementara Thalhah bin Ubaidillah, seorang pembesar utama barisan Islam di Makkah, singa podium yang handal, pelindung Nabi saat perang Uhud berkecamuk dengan tujuh puluh luka tusuk tombak, donator utama fii sabilillah, mendapat julukan dari Rasulullah: Thalhah si Pemurah, Thalhah si Dermawan di usianya yang masih sangat muda.
Juga Sa’ad bin Abi Waqash, seorang ksatria berkuda Muslimin paling berani di saat usianya baru menginjak 17 tahun. Ia dikenal sebagai pemanah terbaik, sahabat utama yang pertama kali mengalirkan darahnya untuk Islam, lelaki yang disebut Rasulullah sebagai penduduk surga.
Zaid bin Tsabit, mendaftar jihad fii sabilillah sejak usia 13 tahun, pemuda jenius mahir baca-tulis. Hingga Rasulullah bersabda memberi perintah: “Wahai Zaid, tulislah….”. Ia mendapat tugas maha berat, menghimpun wahyu, di usia 21 tahun.
Juga Usamah bin Zaid, namanya terkenal harum sejak usia 12 tahun, mukmin tangguh dan muslim yang kuat, Rasulullah menunjuknya sebagai panglima perang di usianya yang ke-20 dan memimpin armada perang menggempur negara adikuasa Romawi di perbatasan Syiria dengan kemenangan gemilang.
Lalu, jika mereka pada usia seperti itu saja telah berhasil mempersembahkan karya yang luar biasa, bahkan ada yang mempersembahkan nyawanya untuk membela Islam sehingga memperoleh syahid di jalan- Nya,, maka apa yang telah kita persembahkan?
Memang menjadi salah satu tugas kita juga untuk menunjukkan pada masyarakat bahwa pemuda muslim yang diharapkan agama, bangsa dan negara adalah pemuda yang benar-benar ta’at pada Allah, yang Islamnya kaaffah (menyeluruh), tidak setengah-setengah. Karena bisa jadi, pandangan masyarakat (yang diawal telah disebutkan) terhadap para pemuda disebabkan tak munculnya sosok yang menjadi bukti bahwa pemuda muslim yang kaaffah-lah yang sebenarnya umat butuhkan.
Setiap tahun, masyarakat kita memperingati hari Sumpah Pemuda di negara ini. Sayang, peringatan itu hanya sebatas kegiatan seremonial semata, tetapi miskin subtansi. Dengan adanya karakteristik sosok pemuda ideal yang dicontohkan dalam al-Qur’an dan al-Hadits diharapkan bisa menjadi sumber inspirasi bagi para pemuda Indonesia dahulu, masa kini dan masa depan. Sadarilah, bahwa Islam menunggu peran para pemuda. Islam menunggu kita, kawan!!!
Pemuda yang senantiasa Belajar Agama, mendalaminya< mengamalkannya, lantang mendakwahkannya, digarda depan mereka pioner perubahan mengajak manusia kepada Agama Tauhid, karyanya menggemparkan dunia, bersemangat disetiap jalan kebenaran, merangkul dan mengajak masyarakat untuk taat kepada Allah dan RasulNya.
Inilah Pemuda harapan ummat masa ini, mereka tauladan sesamanya dan impian orangtua kepada setiap anak-anaknya. itukah kalian…!!!?
Mari kita buktikan bahwa di atas pundak kepribadian muslim yang sempurnalah umat Islam akan berdiri kokoh dan kuat. Mari saling mengingatkan untuk senantiasa bersemangat dalam menjalani masa muda sebagai persembahan kita untuk Allah ‘aza wa jalla. [Oleh: Monkey D. Luffy/islampos]

Selasa, 23 Juli 2013

Foto Bersama Anggota LDK MIZAN Masa Dakwah 2013/2014 
di halaman Masjid Agung Palembang, 20 Juli 2013


Selasa, 16 Juli 2013


KATA SAMBUTAN
KETUA LDK MIZAN

Assalamu’alaikum Wr. Wb
Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, atas ridho, rachmad dan perkenan-Nya, pada hari ini Selasa tanggal 16 Juli 2013, LDK MIZAN melaunching Website LDK MIZAN dengan situs http://ldkmizanpalembang.blogspot.com/
Mulai hari ini masyarakat luas dan khusus mahasiswa Poltekkes Palembang akan dapat dengan mudah mengakses untuk mencari dan mendapatkan informasi yang berkaitan dengan pelaksanaan kinerja LDK MIZAN dari hulu sampai hilir dengan segala perkembangannya. Website ini merupakan salah satu bentuk transparasi dan akuntabel pelaksanaan kinerja, yang diharapkan dapat membangun image masyarakat kedalam tataran yang positif dan lebih baik lagi dengan diimbangi profesionalisme serta peningkatan jati diri setiap insan dalam setiap pelaksanaan kinerja yang menjadi tanggung jawabnya, dalam setiap tahapan proses penyelesaiannya.
Kehadiran website ini, dapat dijadikan sarana kontrol, sekaligus pemicu dalam penyelesaian setiap tugas yang dapat dipertanggung jawabkan kepada publik.

Sekian dan terima kasih.
Wasalamu’alaikum Wr. Wb

Palembang, 16 Juli 2013


ACHMAD FAISAL ROSYADI
NIM PO.71.20.1.12.001